Cara Membuat Perencanaan Produksi yang Tepat

By | January 14, 2022

Kita tidak asing lagi dengan istilah “perencanaan produksi” dalam manajemen perusahaan. Perencanaan produksi yang tepat akan membantu perusahaan untuk melaksanakan efisiensi. Semakin tinggi efisiensi maka semakin besar keuntungan yang diterima perusahaan. Efek sebaliknya juga dapat terjadi dengan perencanaan produksi yang buruk. 

Dapatkan Souvenir Gratis Setiap Bulan nya Dari Website Manghin.com
Daftar : Dapatkan Souvenir Menarik Mangihin.com 

Efisiensi yang rendah akan menyebabkan biaya produksi membengkak, sehingga menggerus keuntungan. Produksi juga bisa tertunda sehingga distribusi produk ke pasar akan terlambat. Itu berarti penjualan produk akan menurun dan pelanggan juga bisa kehilangan kepercayaan terhadap perusahaan.

Efek buruk inilah yang membuat perusahaan membuat rencana produksi sebaik mungkin. Perencanaan produksi biasanya menyangkut kapasitas produksi, stok material yang tersedia, infrastruktur pendukung, staf operasional, dan sebagainya. Semua faktor yang mempengaruhi produksi harus disesuaikan dengan kemampuan pasar dalam menyerap produk. Oleh karena itu, rencana produksi diturunkan dari hasil analisis kebutuhan pasar terhadap produk yang dihasilkan.

Mengapa perencanaan produksi harus didasarkan pada analisis kebutuhan pasar? Pasalnya, pasar belum tentu mampu menyerap produk tersebut. Kesenjangan antara kapasitas produksi dan kemampuan pasar dalam menyerap produk merupakan kondisi yang harus diminimalisir untuk menghindari kerugian. Analisis kebutuhan pasar akan menghasilkan  prakiraan pemasaran  yang mencakup informasi mengenai perhitungan kebutuhan material, kebutuhan kapasitas produksi, dan faktor pendukung lainnya.

Praktik Perencanaan Produksi

Informasi ini diharapkan dapat menghasilkan produk dengan kuantitas dan kualitas yang sesuai. Kami telah berbicara tentang pentingnya perencanaan produksi. Lalu seperti apa praktiknya?

sebuah. Merutekan  atau menyusun alur kerja

Hal pertama yang harus dilakukan dalam perencanaan produksi adalah melakukan  routing  . Routing  dapat dipahami sebagai pengaturan jalur kerja. Bentuknya bisa berupa perintah kerja produk, jadwal operasional perusahaan, dan urutan operasi kerja. Perutean  mencakup informasi penting dalam jalur kerja. Misalnya kuantitas mesin,  pasokan  bahan baku, kualitas produk, staf dan karyawan, peralatan produksi, operasi kerja, dan lain sebagainya. Melalui  routing  , kita dapat mengetahui kebutuhan apa saja yang dibutuhkan agar pengerjaan produk dan perusahaan dapat berjalan.

Setidaknya ada empat proses dalam  routing  yang dipahami secara umum. Keempat proses tersebut adalah penentuan produk yang akan diproduksi, kapasitas, cara produksi, dan tempat produksi produk itu sendiri. Staf perusahaan harus memiliki kecermatan dan kecerdasan untuk menelaah keempat proses tersebut secara detail, kemudian menyesuaikannya dengan keinginan pasar agar produk dapat laku terjual. Ada juga yang memahami  perutean  sebagai jalur terperinci untuk mengubah bahan mentah menjadi produk jadi secara sistematis. Proses konversi harus tepat dan efisien agar bahan dan energi yang digunakan dapat optimal.

B. Penjadwalan  atau penjadwalan

Setelah  routing  dilakukan, proses selanjutnya adalah membuat  penjadwalan  atau schedule pengerjaan. Penjadwalan  didasarkan pada  hasil perutean  yang menginformasikan jumlah pekerjaan dan urutannya. Jika ada pekerjaan yang harus dilakukan secara bersamaan, maka akan dibuat skala prioritas. Pekerjaan mana yang harus didahulukan harus dilakukan lebih awal agar   tidak terjadi  kemacetan . Penjadwalanakan memperhitungkan waktu mulai dan selesai pekerjaan, serta waktu cadangan sebagai langkah antisipasi kejadian yang tidak diharapkan. Waktu cadangan dapat didelegasikan secara mikro ke setiap pos kerja karena pekerja di setiap pos adalah orang yang mengetahui kondisi kerja yang sebenarnya. Cara ini akan membantu perusahaan secara keseluruhan karena proses produksi lebih terkontrol dan disesuaikan dengan keadaan sebenarnya.

C. Mengirim  atau mengalihkan tanggung jawab kepada staf operasional

Tahap ketiga adalah  pengiriman  atau pemindahan tanggung jawab kerja kepada staf operasional untuk mengimplementasikan  perutean  dan  penjadwalan  . Tanggung jawab meliputi infrastruktur pendukung, bagan proses kerja, instruksi, klarifikasi tanggung jawab, peraturan, dan sebagainya. Lainnya melampirkan catatan atau memo di samping pengingat atau  pengingat  . Selain itu, ada juga yang melakukan  pilot project  atau simulasi untuk memastikan rencana kerja yang dibuat dapat dilaksanakan. Termasuk agar hasilnya sesuai dengan target yang telah ditentukan. pengiriman fasejuga menambahkan fungsi kontrol untuk pelaksanaan pekerjaan. Pengendalian yang dimaksud bukanlah pengaturan, melainkan pengawasan. Ketika ada hal di luar rencana yang dapat mengakibatkan produksi mundur atau gagal, supervisor akan mengambil sikap tegas untuk mengembalikan proses produksi ke standar yang telah dibuat di bagian perencanaan.

Tips melaksanakan perencanaan produksi agar dapat berjalan sesuai koridor

Setiap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan dengan perencanaan produksi akan dilakukan sesuai dengan  rancangan  final plan. Namun ada satu kegiatan yang sulit diperkirakan dan pelaksanaannya terkadang dibiarkan kabur. Aktivitas tersebut merupakan interaksi dan keterhubungan dari berbagai divisi. Misalnya saja diskusi tentang kebutuhan bahan dan peralatan, sumber daya manusia, peningkatan kapasitas karyawan, dan lain sebagainya. Interaksi antar manusia dari divisi yang berbeda akan membuat tingkat kerumitan hubungan dapat meningkat.

Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan sering meninggalkannya pada sejarah. Perusahaan akan memberikan catatan evaluasi rencana produksi, dan melihat masalah apa yang tercatat di sana. Umumnya tidak jauh dari apa yang disebutkan pada paragraf sebelumnya. Catatan ini dapat digunakan sebagai acuan untuk memecahkan masalah. Meliputi laporan produksi yang berkaitan dengan periode terjadinya masalah. Kita dapat melihat faktor dominan masalah yang mempengaruhi produksi dan melihat solusinya pada periode berikutnya. Jika cara ini belum bisa menemukan solusi, maka Anda bisa melakukan riset ke beberapa perusahaan lain yang memiliki masalah serupa.

Sebenarnya masalah tidak perlu dilihat sebagai hambatan melainkan sebagai tantangan. Setiap pekerjaan yang dilakukan, pasti selalu ada masalah. Masalah bisa menjadi tantangan yang dipecahkan dan membuat perusahaan Anda selangkah lebih maju dari pesaing. Artinya masalah merupakan tantangan untuk mengejar  kesempurnaan  . Memecahkan masalah malah bisa menjadi kesempatan Anda untuk membuka kunci elemen kunci dalam produksi. Manfaatnya untuk mendongkrak kinerja dan kelancaran arus produksi. Biasanya ada empat jenis masalah utama yang dapat menghambat proses produksi, berikut penjelasannya.

sebuah. Memesan bahan atau bahan produksi

Pemesanan bahan atau bahan produksi memerlukan transportasi pengiriman. Pengiriman ini bisa menjadi masalah karena ada faktor yang tidak bisa diprediksi. Misalnya seperti cuaca buruk, kelangkaan barang, dan lain sebagainya.

B. Pengadaan peralatan

Peralatan memerlukan penilaian khusus agar tepat dan sesuai dengan persyaratan produksi. Mungkin Anda harus mencoba beberapa peralatan terlebih dahulu sebelum menemukan yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

C. Kemacetan

Bottlenecks  adalah kemacetan karena proses produksi yang tumpang tindih satu sama lain. Masalah utama adalah bahwa  kemacetan  sering terjadi pada dua atau lebih aktivitas produksi yang sama pentingnya. Anda tidak bisa menghilangkan salah satunya saja karena kegiatan produksi juga tidak kalah pentingnya. Cara mengatasinya adalah penyusunan strategi kerja dengan peluang terbaik untuk mendapatkan hasil yang optimal.

D. Rekrutmen dan pelatihan karyawan untuk meningkatkan kapasitas

Posisi kunci atau posisi khusus akan membutuhkan peningkatan kualitas agar produksi lebih optimal. Padahal mereka berperan penting dalam kegiatan operasional sehari-hari. Maka kita membutuhkan posisi alternatif yang dapat  menangani  pekerjaan selama pelatihan. Termasuk perekrutan pegawai baru. Mereka membutuhkan proses adaptasi dan pembelajaran agar dapat menyesuaikan diri dengan ritme kerja perusahaan. Perlu adanya ruang toleransi dan batasan waktu yang jelas agar proses adaptasi dapat berjalan dengan lancar.