KESEIMBANGAN EKONOMI DUA SEKTOR

By | September 29, 2022

Mangihin.com is a website that provides useful information, please share if there is interesting information that can help you. Thank you

KESEIMBANGAN EKONOMI DUA
SEKTOR

Perekonomian
dua sektor merupakan penyederhanaan dalam mempelajari sistem perekonomian
secara keseluruhan
. Perekonomian
Dua sektor juga merupakan perekonomian yang terdiri dari sektor rumah tangga
dan perusahaan .
Ini berarti dalam perekonomian dimisalkan tidak terdapat
kegiatan pemerintah maupun perdagangan luar negeri. Aliran pendapatan dalam
perekonomian dua sektor dapat ditujukan pada gambar berikut.

                              Sirkulasi Aliran Pendapatan Dalam Ekonomi Dua Sektor

Dari sifat sirkulasi
aliran pendapatan yang terdapat dalam gamber tersebut dapat diambil kesimpulan
bahwa ciri-ciri pendapatannya sebagai berikut:

1.     Sektor perusahaan menggunakan faktor-faktor produksi yang
dimiliki rumah tangga. Faktor-faktor produksi tersebut memperoleh pendapatan
berupa gaji dan upah, sewa, bunga dan untung.

2.  Sebagian besar pendapatan yang diterima rumah tangga akan
digunakan untuk konsumsi, yaitu membeli barang-barang dan jasa-jasa yang
dihasilkan oleh sektor perusahaan.

3.      Sisa pendapatan rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi
akan ditabung dalam institusi-institusi keuangan.

4.  Pengusaha-pengusaha yang memerlukan modal untuk melakukan
investasi akan meminjam tabungan yang dikumpulkan oleh badan-badan keuangan
dari sektor rumah tangga.

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI DAN PENDAPATAN

Terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhi tingkat pengeluaran rumah tangga (Secara seunit kecil
atau dalam keseluruhan ekonomi). Namun yang terpenting adalah pendapatan rumah
tangga. Tabel yang menggambarkan hubungan antara konsumsi rumah tangga dan
pendapatannya disebut juga dengan daftar konsumsi. Dari daftar tersebut
menggambarkan besarnya konsumsi rumah tangga pada tingkat pendapatan yang
berubah-ubah.

Pendapatan
disposebel (Yd)

pengeluaran
konsumsi (C)

Tabungan (S)

0

125

-125

100

200

-100

200

275

-75

300

350

-50

400

425

-25

500

500

0

600

575

25

700

650

50

800

725

75

900

800

100

1000

875

125

Pada saat penapatan
seseorang Rp. 500 ribu, konsumsinya adalah Rp. 500 ribu. Pada waktu pendapatan
Rp. 900 ribu, konsumsinya adalah Rp. 800 ribu. Tabel tersebut secara terperinci
menunjukan hubungan diantara tingkat pendapatan disposebel dengan pengeluaran
konsumsi dan tabungan rumah tangga.

Dalam kolom 1 ditunjukan
berbagaia tingkat pendapatan disposebel yang mungkin diterima oleh suatu rumah
tangga, sedangkan dalam kolom 2 ditujukan berbagai jumlah pengeluaran konsumsi
yang akan dilakukan oleh rumah tangga. Jumlah tabungan atau kelebihan
pendapatan sesudah pengeluaran konsumsi yang akan dilakukan oleh rumah tangga
ditujukan dalam kolom 3.

Dari tabel tersebut
dapat memberikan gambaran hubungan mengenai ciri-ciri dari huungan antara
pengeluaran konsumsi dan pendapatan disposebel. Ciri-ciri tersbut adalah:

·      
Pada pendapatan yang rendah, rumah tangga akan mengambilnya dari
tabungan.

Pada
saat pendapatan disposebel adalah nol (Yd = 0), pengeluaran konsumsi adalah Rp.
125 ribu. Berarti rumah tangga harus menggunakan harta atau tabungan masa lalu
untuk membiayai pengeluaran konsumsinya. Tabungan negatif apabila pendapatan
disposebel masih dibawah Rp. 500 ribu.

·      
Kenaikan pendapatan menaikkan pengeluaran konsumsi

Biasanya
pertambahan pendpatan lebih tinggi dari pertambahan konsumsi. Dalam tabel
tersebut menunjukan apabila pendapatan bertambah sebanyak Rp. 100 ribu maka
konsumsi bertambah sebanyak Rp. 75 ribu. Sisa pertamabahn pendapatan itu (Rp.
25 ribu ditabung.

·      
Pada pendapatan yang tinggi, Rumah Tangga menabung.

Setelah
pendapatan rumah tangga lebih besar dari pertambahan konsumsi maka rumah tangga
akan mampu menabung dari sebagian pendapatannya. Dalam tabel tersebut
menunjukan apabila pendapatan rumah tangga lebih randah dari Rp. 500 ribu,
konsumsinya lebih renadah dari pendapatannya. Seperti apda pendapatan Rp. 900
ribu, konsumsi adalah Rp. 800 ribu dan ini menunjukan rumah tangga sudah
menabung sebanyak Rp. 100 ribu.

KECONDONGAN MENGKONSUMSI DAN MENABUNG

I.             
Kecondongan Mengkonsumsi

Kecondongan mengkonsumsi
perlu dibedakan menjadi dua pengertian, definisi dari masing-masing konsep
tersebut yaitu:

1.     Kecondongan mengkonsumsi marjinal, atau secara ringkas selalu
dinyatakan sebagai MPC (berasal dari istilah inggrisnya marginal prospensity to
consume),
didefinisikan sebagai perbandingan diantara pertambahan
konsumsi (C) yang dilakukan dengan pertambahan pendapatan disposebel (Yd)
yang diperoleh. Nilai MPC dapat dihitung dengan formula:

MPC
= C/Yd.

2.     Kecondongan mengkonsumsi rata-rata, atau secara ringkas selalu
dinyatakan sebagai APC (berasal daripada istilah inggrisnya average prospensity
to consume),
didefinisikan sebagai perbandingan diantara tingkat pengeluaran
konsumsi (C) dengan tingkat pendapatan disposebel pada ketika konsumen tersebut
dilakukan (Yd). Nilai APC dapat dihitung dengan menggunakan formula:

APC
= C/Yd.

Menghitung MPC dan APC

Untuk lebih jelas mengenai konsep kecondongan mengkonsumsi dapat
ditujukan melalui tabel berikut:

                                  Kecondongan mengkonsumsi marjinal dan rata-rata

Dalam contoh 1 tersebut
digambarkan pendapatan disposebel dalam kolom 1 selalu bertambah sebanyak Rp.
200 ribu (misalnya dari RP. 400 ribu menjadi Rp. 600 ribu) dan ini mengakibatkan
konsumsi yang ditujukan dalam kolom 2, juga senantiasa bertambah sebanyak Rp.
150 ribu (dari Rp. 450 ribu menjadi Rp. 600 ribu). Maka MPC yang ditujukan
dalam kolom 3 adalah 0,75 dan ini dibuktikan oleh penghitungan:

MPC = C/Yd

= 150 ribu / 200 ribu

= 0,75

Dalam contoh 2
digambarkan pendapatan disposebel juga selalu bertambah sebanyak Rp. 200 ribu,
tetapi kenaikan konsumsi rumah tangga makin kecil pertambahannya. Sifat
hubungan di antara pertambahan pendapatan disposebel dan konsumsi adalah:

·      Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp. 200 ribu
menjadi Rp. 400 ribu, konsumsi naik dari Rp. 300 ribu menjadi Rp. 460 ribu.
Pada perubahan pendapatan dan konsumsi ini MPC adalah: (460 – 300) / (400 –
200) = 0,8

·      Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp. 400 ribu
menjadi Rp. 600 ribu, konsumsi bertambah dari Rp. 460 ribu . maka MPC = (610 –
460) / (600 – 400) = 0,75

·          
Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp. 600 ribu
menjadi Rp. 750 ribu maka MPC = (750 – 610) / (800 – 600)

Hasil dari perhitungan
dalam 1, 2, dan 3 ditunjukan dalam kolom 3, penghitungan kecondongan konsumsi
rata-rat ditunjukan dalam kolom 4. Dari contoh 1 dan 2 dapat dilihat bahwa APC
berubah-ubah nilainya, dan nilainya makinlama makin rendah. Apabila Yd < dari C, maka APC > 1 (contoh pada Yd = Rp. 200 ribu, C adalah Rp.
300 ribu, maka APC 300/200 = 1,5). Dan apabila Yd > C (contoh
pada Yd = Rp. 800 ribu, C adalah Rp. 750 ribu, maka APC = 750/800 =
0,9375), maka APC < 1

II.          
Kecondongan Menabung:

Kecondongan menabung
juga perlu dibedakan menjadi dua pengertian, definisi dari masing-masing konsep
tersebut yaitu:

1. Kecondongan
Menabung Marginal/MPS (Marginal Propensity to Save)

dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara pertambahan tabungan (S)
dengan pertambahan pendapatan diposebel( Yd). Nilai MPS dapat dihitung dengan
formula:

MPS = S/Yd

2. Kecondongan
Menabung Rata-rata/APS (Average Propensity to Save)
,
dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara tabungan (S) dengan
pendapatan disposebel(Yd), Nilai APS dapat di hitung dengan menggunakan
formula:

APS = S/Yd

Menghitung MPS dan APS

Untuk lebih jelas mengenai konsep kecondongan kecondongan
menabung dapat ditujukan melalui tabel berikut:

                                      Kecondongan Menabung marjinal dan rata-rata

Dalam kolom 1 dimisalkan
pendapatan disposebel mengalami pertambahan yang tetap besarnya dan nilai
pertambahannya adalah Rp. 200 ribu. Nilai pendapatan disposebel adalah seperti
yang digunakan dalam tabel tersebut. Seterusnya dimisalkan pula konsumsi adalah
seperti dalam tabel tersebut, maka tabungan adalah seperti yang ditujukan dalam
tabel tersebut yaitu akan bertambah sebanyak Rp. 50 ribu apabila pendapatan
disposebel bertambah Rp. 200 ribu. Maka dalam contoh 1 APC adalah: 50 ribu /
200 ribu = 0,25.

Dalam contoh 2
dimisalkan pendapatan disposebel dan konsumsi adalah seperti dalam tabel
tersebut. Maka tabungan adalah seperti yang ditujukan pada kolom 3. Bedasarkan
data tersebut MPS, adalah:

·      Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp. 20 ribu menjadi
Rp. 400 ribu, tabungan berubah dari Rp. -100 ribu menjadi Rp. -60 ribu, maka
MPS = -60 – (-100) / (400 – 200) = 40 / 200 = 0,20

·      Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp. 400 ribu
menjadi Rp. 600 ribu, tabungan berubah dari Rp. -60 ribu menjadi Rp. 10 ribu.
Maka MPS adalah: -10 – (-60) / (600 – 400) = 50 / 200 = 0,25

·       Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp. 600 ribu
menjadi Rp. 800 ribu, tabungan berubah dari Rp. -10 ribu menjadi Rp 50 ribu.
Maka MPS adalah 50 – (-10) / (800 – 600) = 60 / 20 = 0,30

Hasil perhitungan
tersebut ditujukan dalam kolom 4. Dalam kolom 5, ditujukan perhitungan untuk
memperoleh nilai APS. Dari perhitungan yang dibuat dapat dilihat bahwa nilai APS
semakin besar apabila pendapatan disposebel bertambah. Pada mulanya nilai
negatif, karena rumah tangga masih mengambil tabungan atau melakukan dissaving.
Hingga pendapatan RP. 600 ribu rumah tangga masih melakukan pengambilan
tambungan. Contoh:

1.      Dalam
contoh 1, apabila pendapatandisposebel adalah Rp. 200 ribu, tabungan adalah Rp.
-100 ribu, maka APS adalah -100 / 200 = -0,5

2.      Dalam
contoh 2, apabila pendapatandisposebel adalah Rp. 400 ribu, tabungan adalah Rp.
-60 ribu, maka APS adalah -60 / 400 = -0,15

HUBUNGAN ANTARA KECONDONGAN MENGKONSUMSI DAN MENABUNG

Dalam tabel tersebut ditujukan
kembali data MPC dan MPS, APC dan APS yang sebelumnya telah dihitung.

                         Hubungan Antara Kecondongan Mengkonsumsi & Menabung

Hasil perhitungan tersbut menunjukan bahwa dalam contoh 1 dan 2:

MPC + MPS = 1

APC + APS = 1

Bedasarkan kepada perhitungan tersebut dapatlah dibuat rumusan
sbb:

1.       Dalam setiap nilai MPC dan MPS, apakah nilainya tetap (contoh 1)
dan berubah (contoh 2) MPC + MPS akan selalu sama dengan 1

2.       
Dalam setiap nilai APC dan APS, apakah nilainya tetap (contoh 1)
dan berubah (contoh 2) APC + APS akan selalu sama dengan 1

Hal tersebut juga dapat dibuktikan dengan menggunakan persamaan
aljabar sederhana, dimana pendapatan disposebel sama dengan konsumsi rumah
tangga:

Yd = C + S

Jika persamaan tsb dibagi dengan Yd maka

Yd / Yd = C/ Yd + S/ Yd

Maka APC = C/ Yd dan APS = S/ Yd

1 = APC + APS

Persamaan tersebut membuktikan bahwa rumusan yang dinyatakan
adalah benar

FUNGSI KONSUMSI DAN TABUNGAN

Dalam analisis
makroekonomi yang lebih penting bukanlah melihat konsumsi dan tabungan suatu
rumah tangga, tetapi melihat konsumsi dan tabungan dari semua rumahtangga dalam
perekonomian. Pengeluaran konsumsi dari semua rumah tangga dalam perekonomian
dinamakan konsumsi agregat dan tabungan semua rumahtangga dalam perekonomian dinamakan
tabungan agregat. Untuk menujukan perilaku rumah tangga dalam perekonomian
dalam melakukan konsumsi dan tabungan maka dapat melihat dari ciri-cirinya
dengan menghubungkan kedua variabel tersebut dengan pendapatan nasional. Contoh
angka mengenai pendapatan nasional, konsumsi agregat dan tabungan agregat:

1.      MPC
adalah tetap yaitu: 0,75

2.    Pada
saat pendapatan = 0 (Y = 0), maka rumah tangga dalam perekonomian melakukan
konsumsi sebanyak Rp. 90 trilyun

DAFTAR KONSUMSI DAN TABUNGAN

Dalam tabel berikut ini ditujukan
satu contoh yang mengambarkan tingkat pendapatan nasional, tingkat konsumsi dan
tingkat tabngan yang menggunakan pemisalan seperti yang dinyatakan di atas.
Pada saat penapatan nasional = 0, maka konsumsi rumah tangga daam perekonomian
adalah sebanyak Rp. 90 triliun, dan dengan demikian rumah tangga akan mengambil
tabungan sebanyak Rp. 90 triliun juga.

Pendapatan, Konsumsi dan Tabungan (dlm triliun rupiah)

Pendapatan
Nasional (Yd)

Konsumsi
(C)

Tabungan
(S)

0

90

-90

120

180

-60

240

270

-30

360

360

0

480

450

30

600

540

60

720

630

90

840

720

120

960

810

150

1.080

900

180

Contoh tersebut
menggambarkan pula bahwa pendapatan nasional selalu mengalami perubahan
sebanyak Rp. 120 triliun, dan karena dimidalkan MPC = 0,75 (dan sebagai
akibatnya MPS = 0,25) maka konsumsi dan tabungan masing-masing akan bertambah
sebanyak 0,75 (Rp. 120 triliun) = Rp. 90 triliun dan 0,25 (Rp. 120 triliun) =
Rp. 30 triliun. Bedasarkan kepada data tersebut, maka konsumsi agregat selalu
mengalami pertambahan sebanyak Rp. 90 triliun dan tabungan agregat selalu
mengalami pertambahan sebanyak Rp. 30 triliun.

FUNGSI KONSUMSI DAN FUNGSI TABUNGAN

Dari tabel sebelumnya
dapatlah dibuat kurva fungsi konsumsi dan fungsi tabungan.
sebelum
menerangkan ciri-ciri fungsi konsumsi dan fungsi tabungan terlebih dahulu perlu
didefinisikan arti dari istilah fungsi konsumsi dan fungsi tabungan.

1.    fungsi
konsumsi
adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan diantara
tingkat konsumsi rumahtangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional
perekonomian tersebut.

2.    fungsi
tabungan
adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan diantara
tingkat tabungan rumahtangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional
perekonomian tersebut.

                                                     Grafik 1. Fungsi Konsumsi

                                                     Grafik 2. Fungsi Tabungan

Bedasarkan data dalam
tabel tersebut, maka dapat dibuat grafik konsumsi dan tabungan. Grafik 1,
menggambarkan tingkat konsumsi pada sumbu tegak dan pendapatan nasional pada
sumbu mendatar. Sedangkan pada grafik 2 menggambarkan tingkat tabungan pada
sumbu tegak dan pendapatan nasional pada sumbu mendatar. Bedasarkan grafik
tersebut, ciri ciri fungsi konsumsi adalah sebagai berikut:

1.      Pada saat pendapatan nasional = 0, konsumsi rumah tangga
berjumlah Rp. 90 triliun, dan tabungan sebesar Rp. 0 triliun. Fungsi konsms
pada grafik 1 akan bermula pada nilai RP. 90 triliun di sumbu tegak ( yang
menggambarkan tingkat konsumsi) dan fungsi tabungan dalam grafik 2 akan bermula
pada nilai Rp. 90 triliun disumbu tegak.

2.      Pada saat MPC = 0,75 dan MPS = 0,25, yaitu setiap pertambahan
pendapatan nasional sebanyak Rp. 120 triliun akan menambah konsumsi sebanyak
Rp. 90 triliun (MPC x pertambahan pendapatan nasional) dan tabungan sebanyak
Rp. 30 triliun (MPS x pertambahan pendapatan nasional). Nilai MPC dan MPS
tersebut akan menentukan tingkat kecondongan fungsi konsumsi dan fungsi
tabungan.

MPC DAN MPS DAN KECONDONGAN FUNGSI KONSUMSI DAN TABUNGAN

Dari ciri-ciri fungsi
konsumsi dan tabungan telah dinyatakan bahwa nilai MPC akan menentukan
kecondongan fungsi konsumi dan nilai MPS akan menentukan kecondongan fungsi
tabungan. Al itu dapat dibuktikan dengan melihat akibat dari pergerakan
diantara dua titik pada fungsi konsumsi dan fungsi tabungan.

MPC dan Kecondongan Fungsi Konsumsi

Dalam grafik 1, titik A
menggambarkan bahwa pendapatan nasional adalah Rp. 360 triliun dan konsumsi
adalah Rp. 360 triliun. Sedangkan titik B menggambarkan pendapatan nasional
bernilai Rp. 600 triliun sedangkan nilai konsumsi adalah Rp. 540 triliun.
Dengan demikian, pergerakan dari titik A ke Titik B menggambarkan:

1.       
Pendapatan nasional bertambah sebanyak Rp. 120 triliun

2.       
Konsumsi rumah tangga bertambah sebanyak Rp. 180 triliun

Perubahan tersbut
menunjukan bahwa kecondongan fungsi konsumsi adalah 180 / 240 = 0,75. Nilai ini
adalah sama dengannilai MPC, dan berarti: kecondongan fungsi konsumsi adalah
sama dengan nilai MPC.

MPS dan Kecondongan Fungsi Tabungan

Dalam grafik 2, titik D
menunjukan tingkat tabungan adalah nol (S=0) apabila pendapatan nasional adalah
sebanyak Rp. 360 triliun. Seterusnya titik E menggambarkan ketika tabungan
mencapai RP. 60 triliun penapatan nasional adalah sebanyak Rp. 600 triliun.
Dengan demikian pergerakan dari titik D ke E menggambarkan:

1.       
Pendapatan nasional bertambah sebanyak Rp. 240 triliun

2.       
Tabungan bertambah sebanyak Rp. 60 triliun

Perubahan tersebut
menunjukan kecondongan tabungan adalah: 60 / 240 = 0,25. Nilai ini sama dengan
nilai MPS dan berarti: Kecondongan fungsi tabungan adalah sama dengan nilai
MPS.

PERSAMAAN FUNGSI KONSUMSI DAN TABUNGAN

Fungsi konsumsi dan
tabungan, disamping digambarkan dalam bentuk kurva, juga dapat dinyatakan dalam
persamaan aljabar. Persamaan aljabar untuk fungsi konsumsi dan tabungan adalah
seperti dinyatakan dalam persamaaan yang dinyatakan dibawah ini.

1.       
Fungsi konsumsi ialah : C = a+bY

2.       
Fungsi tabungan ialah : S= -a+(1-b)Y

Dimana a adalah konsumsi
rumah tangga pada ketika pendapatan nasional adalah 0, b adalah kecondongan
konsumsi marginal, c adalah tingkat konsumsi dan y adalah tingkat pendapatan
nasional. Ada kalanya fungsi konsumsi dan tabungan menunjukkan hubungan
diantara konsumsi dan tabungan dengan pendapatan disposibel y. Persamaan
untuk hubungan seperti itu adalah:

1.       
Fungsi konsumsi: C=a+b Yd

2.       
Fungsi tabungan : S= -a+(1-b)Yd

Dalam contoh yang ditujukan pada tabel sebelumnya dan grafiknya
maka nilai a = 90 triliun dan b = 0,75. Maka persamaan fungsi konsumsi dan
tabungan adalah

C = 90 + 0,75Y

S = -90 + -0,25Y

FAKTOR LAIN PENENTU KONSUMSI DAN TABUNGAN

Penentu-penentu lain
konsumsi dan tabungan, uraian sampai tingkat ini menekankan peranan pendapatan
rumah tangga sebagai faktor penentu yang menentukan tingkat konsumsi dan
tabungan. Ini didasarkan pada pandangan keynes yang berpendapat tingkat
konsumsi dan tabungan terutama ditentukan oleh tingkat pendapatan rumah tangga.
Walaupun pendapatan rumah tangga penting peranannya dalam menentukan konsumsi,
peranan faktor-faktor lain tidak dapat diabaikan. Dibawah ini diterangkan
beberapa faktor lain yang mempengaruhi tingkat konsumsi dan tabungan rumah
tangga:

1.       
Kekayaan Yang Telah Terkumpul.

Sebagia akibat dari mendapat harta warisan, atau tabungan yang
banyak sebgai akibat usaha di masa lalu, maka seseorang berhasil mempunyai
kekayaan yang mencukupi. Dalam keadaan seperti itu ia tidak terdorong lagi
untuk menabung lebih bnyak. Begitupun sebaliknya

2.       
Suku Bunga

Suku bunga dapatlah dipandang sebagai pendapatan yang diperoleh
dari melakukan tabungan. Rumah tangga akan membuat lebih bnyak tabungan apabila
suku bunga tinggi karena lebih banyak pendapatan dari penabungan yang
diperoleh. Pada suku bunga rendah orang tidak begitu suka membuat tabungan
karena mereka merasa lebih baik melakukan pengeluaran konsumsi dari menabung.

3.       
Sifat Berhemat

Berbagai masyarakat mempunyai sikap yang berbeda dalam menabung
dan berbelanja. Ada yang suka berlebihan dan ada yang lebih mementingkan
tabungan. Dalam masyarakat seperti itu APC dan MPC nya lebih rendah. Tapi ada
pula yang mempunyai kecendrungan mengkonsumsi yang tinggi, yang berarti APC dan
MPC ny adalah tinggi.

4.       
Keadaan Perekonomian

Dalam perekonomian yang tumbuh dengan banyak pengangguran,
masyarakat berkencendrungan melakukan pengeluaran yang lebih aktif. Mereka
mempunyai kecendrungan berbelanja lebih bnyak pada masa kini dan kurang
menabung.

5.       
Distribusi Pendapatan

Dalam masyarakat yang ditribusinya tidak merata, lebih bnyak
tabungan yang dapat diperoleh. Dalam masyarakat demikian sebagaian besar pendapatan
nasional dinikmati oleh segolongan kecil penduduk yang sangat kaya, dan golonga
masyarakat ini mempunyai kecendrungan menabung yang tinggi.

6.       
Tersedia Tidaknya Dana Pensiun Yang Mencukupi

Apabila pendapatan lebih besar dari jumlah pensiunnya, para kekerja
tidak terdorong untuk melakukan tabungan yang bnyak dan ini menaikan tingkat
konsumsi. Begitu pun sebaliknya.