Mengenal Lebih Jauh Tentang Kas dalam Akuntansi Bisnis

By | January 10, 2022

Anda pasti sudah familiar dengan uang tunai. Tunai  atau cash berarti uang tunai atau dibayarkan langsung tanpa hutang. Namun, kas memiliki arti yang lebih luas dalam akuntansi. Kas adalah salah satu  aset yang paling  likuid . Semakin besar nominalnya, semakin  likuid.

Dapatkan Souvenir Gratis Setiap Bulan nya Dari Website Manghin.com
Daftar : Dapatkan Souvenir Menarik Mangihin.com 

Apa itu Uang Tunai?

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), uang tunai adalah investasi yang bisa sangat  likuid,  berjangka pendek dan dapat dengan cepat dijadikan uang tunai dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan. Lebih lanjut IAI menyatakan bahwa kas terdiri dari saldo kas (  cash on hand  ), giro atau setara kas. Dengan kata lain, kas adalah harta perusahaan yang berupa uang tunai (uang kertas, uang logam, uang kertas, cek, dll) yang dimiliki oleh perusahaan atau disimpan di bank dan dapat digunakan untuk kegiatan perusahaan secara umum.

Karakteristik Uang Tunai

Untuk membedakan uang tunai dengan aset lainnya, Anda dapat melihatnya dengan memahami karakteristik atau karakteristik uang tunai. Berikut ciri-ciri uang tunai yang harus Anda ketahui:

  • Aset perusahaan  paling  likuid .
  • Standar pertukaran yang paling umum.
  • Dapat menjadi dasar perhitungan dan pengukuran.

Baca juga: Laporan Arus Kas: Pengertian, Cara Pembuatan dan Contohnya

Jenis Uang Tunai

Seperti disebutkan di atas, uang tunai dapat dibagi menjadi beberapa bagian. Pembagian tersebut bertujuan untuk memudahkan proses pengawasan dan pemeriksaan terkait distribusi arus kas. Anda dapat menemukan distribusi kas ini di buku besar perusahaan. Sedangkan jika melihat laporan keuangan kas telah disatukan secara umum sehingga pengguna laporan keuangan yang masih awam dengan akuntansi dapat lebih mudah memahaminya.

1.  Kas Kecil  (Petty Cash)

Kas kecil adalah kas berupa uang yang disediakan oleh perusahaan untuk membayar pengeluaran-pengeluaran yang relatif kecil dan tidak ekonomis jika dibayar dengan cek. Ada 2 metode pencatatan kas kecil, yaitu:

sebuah.  Metode Imprest (Metode Pendanaan Tetap)

Suatu metode pengisian dan pengendalian kas kecil dimana jumlah kas kecil selalu tetap dari waktu ke waktu karena pengisian kembali kas kecil akan sama dengan jumlah yang telah dikeluarkan.

B. Metode Fluktuasi

Cara pencatatan dan pengendalian kas kecil, dimana jumlah kas kecil akan selalu berubah sesuai dengan pengeluaran, penerimaan dan penambahan kas kecil. Dalam sistem ini, manajer kas kecil mencatat buku kas kecil untuk setiap pengeluaran atau tambahan dana kas kecil yang akan menjadi dasar untuk mem-posting perkiraan ke buku besar.

2. Uang Tunai di Bank

Kas di bank adalah uang perusahaan di rekening bank. Biasanya digunakan untuk pengeluaran yang relatif besar dan tidak mungkin diberikan langsung dalam transaksi karena jumlahnya besar dan rentan dari segi keamanan. Kas di bank ini selalu dikaitkan dengan laporan bank bagi perusahaan.

3.   Pelaporan Kas

Meskipun pelaporan kas dapat dilakukan dengan segera, namun terdapat juga permasalahan dalam pelaporan kas. Masalah yang berkaitan dengan pelaporan kas dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

sebuah. Setara kas

Setara kas  atau biasa disebut dengan setara kas adalah kelompok aset perusahaan yang  jatuh temponya  kurang dari tiga bulan. Setara kas ini akan sangat berguna bila digunakan dalam kondisi ekonomi yang sulit dan tidak stabil. Contoh dari setara kas tersebut adalah Surat Utang Negara (SUN) dan  Surat Perbendaharaan Negara  .

B. Uang Tunai Terbatas

Kas yang dibatasi penggunaannya  adalah kas yang sengaja disisihkan untuk kewajiban masa depan yang signifikan. Berikut adalah contoh ilustrasi untuk memperjelas pemahaman Anda:

Perusahaan memiliki kewajiban membayar kerusakan lingkungan sebesar 15 juta rupiah selama lima tahun ke depan, berdasarkan kondisi tersebut, perusahaan menyisihkan 15 juta rupiah ke   rekening kas yang dibatasi penggunaannya.

C. Cerukan Bank

Cerukan bank  adalah perusahaan yang menerbitkan cek yang nilainya lebih besar dari saldo di bank. Misalnya, Perusahaan Maju Sejahtera mengeluarkan cek sebesar 120 juta, sedangkan saldo rekening Maju Sejahtera di bank hanya 100 juta. Kemudian 20 juta itu masuk ke utang jangka pendek.