Pola Lantai Tari Indang Minangkabau

By | January 3, 2021
gambar pola lantai tari indang,gambar pola lantai tari indang badinding,langkah langkah pola lantai tari indang,pola lantai tari indang di atas membentuk sudut,bagaimana bentuk pola lantai tari indang dan tari saman,pola lantai tari indang dilandasi nilai-nilai,tari indang biasanya ditampilkan secara,tari pendet dari bali pola lantai

Tari Indang berasal dari Sumatera Barat. Namun, masyarakat Padang Pariaman percaya bahwa Indang awalnya dibawa oleh para ulama Islam dari Aceh ke Pariaman, Sumatera Barat dan mengalami akulturasi dengan budaya Minangkabau.

Tari indang atau biasa disebut tari dindin badindin adalah sebuah tarian tradisional yang berasal dari budaya masyarakat Minang, Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Tarian ini sebetulnya merupakan sebuah permainan alat musik yang dilakukan secara bersama-sama. Nama indang sendiri berasal dari nama alat musik tepuk yang dimainkan pada tarian ini. Indang atau juga disebut Ripai, adalah sebuah instrument yang dimainkan dengan cara ditepuk. Bentuknya seperti rebana tapi berukuran lebih kecil.

Baca Juga : Pola Lantai Tari Tandak Sambas Riau

Gerakan tari ini memang sekilas menyerupai tari Saman dari Aceh. Awalnya, tarian ini digunakan sebagai salah satu cara menyebarkan agama Islam di Tanah Padang. Namun, seiring dengan perkembangan waktu fungsi tari Indang tertandingi dengan sistem ceramah dan juga pidato.

Penari Tari Indang

Awalnya pemain Indang terdiri dari anak laki-laki yang berusia antara 7-15 tahun. Tradisi di Sumatera Barat, anak laki-laki diharuskan menginap dan belajar mengaji di surau.

Perkembangan berikutnya muncul khalifah-khalifah tari Indang lainnya yang berperan besar mengembangkan tari Indang di daerah Pariaman. Akhirnya tari ini menyebar dengan cepat ke daerah-daerah lainnya sampai ke Solok.

Di Solok, tari Indang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat sehingga berkembang dengan sebutan Indang Solok.

Baca juga : Pola Lantai Tari Kecak Bali

Gerakan Tari Indang Dindin Padindin

gerakan tari Indang dilakukan oleh dua kelompok yang menari dengan menggerakkan tangan, menepuk, dan juga menjentikkan jari tangan dengan pola lantai. Gerakan ini dilambangkan sebagai pujian kepada Allah SWT, Rasul, dan juga pejuang agama Islam.

Gerakan tari Indang Dindin Padindin awalnya berfungsi untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama Islam, misalnya berisi puji-pujian kepada Allah, Rasul, dan juga khalifah Indang. Tarian ini bahkan dilakukan pada malam hari dengan kepercayaan roh-roh yang berjasa dalam perkembangan Islam akan turun.

Properti Tari Indang

Awal mula tarian ini muncul, para penarinya memiliki rebana kecil sebagai properti. Namun seiring perkembangannya, para penari hanya menggunakan tangan kosong untuk membunyikan suara yang ingin dihasilkan.

Iringan Tari
Tari Indang Dindin Badindin diiringi oleh 2 ragam bunyi, yaitu bunyi yang berasal dari tabuhan alat musik tradisional khas Melayu seperti rebana dan gambus, serta bunyi yang berasal dari syair yang dinyayikan oleh seorang tukang dzikir. Tukang dzikir sendiri adalah sebutan bagi seorang yang memandu tari melalui syair dan lagu yang dinyanyikannya. Pada perkembangannya, alat musik yang mengiringi tari Indang kini semakin beragam. Beberapa alat musik modern seperti akordeon, piano, dan beberapa alat musik tradisional lainnya juga kerap ditemukan. Selain itu, syair lagu yang kerap dinyanyikan juga kini lebih sering hanya 1 jenis saja, yaitu lagu Dindin Badindin karya Tiar Ramon.

Setting Panggung

Tari Indang hanya boleh ditampilkan oleh penari pria saja. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang tidak memperkenankan wanita mempertontonkan dirinya di khalayak umum. Namun, aturan ini kian lama semakin ditinggalkan. Buktinya beberapa pementasan tari indang kini kerap ditemukan dengan penari perempuan. Jumlah penarinya sendiri beragam, tapi yang sering ditemukan tarian ini ditampilkan oleh penari berjumlah ganjil, seperti 7 orang penari, 9 orang, 11 orang, atau 13 orang dengan satu atau dua orang bertindak sebagai tukang dzikir. Para penari tari Indang dalam budaya minang disebut dengan istilah anak Indang.

Baca Juga : Pola Lantai Tari Saman Aceh

Tata Rias dan Tata Busana

Dalam perkara tata rias dan tata busana, tari indang tidak memiliki banyak aturan. Yang jelas, khusus untuk para penarinya wajib mengenakan pakaian adat Melayu sebagai simbol dan identitas asal tarian tersebut. Sementara untuk tukang dzikir bebas mengenakan pakaian apapun asalkan sopan.

Properti Tari

Pada awal masa kemunculannya, tari indang wajib dilengkapi dengan indang atau rebana kecil sebagai propertinya. Namun, kini properti tersebut sering ditinggalkan dan digantikan fungsinya oleh lantai panggung yang dapat menghasilkan suara ketika ditepuk.