Rumah Daun Muda: SOP ASKEP ASMA BRONCHIALE RAWAT INAP PUSKESMAS,AKRIDITASI

By | August 6, 2022

mangihin.com. Menyajikan beberapa informasi Otomotif, Bank, Tutorial, Kerajinan . semoga dapat membantu anda untuk belajar dan menuntut Ilmu serta menambah wawasan anda.

5.  
Prosedur/
Langkah – langka
h
Hasil Anamnesis (Subjective)
Gejala khas untuk Asma, jika ada maka
meningkatkan kemungkinan pasien memiliki Asma, yaitu :
1. Terdapat lebih dari satu gejala (mengi,
sesak, dada terasa berat) khususnya pada dewasa muda
2. Gejala sering memburuk di malam hari
atau pagi dini hari
3. Gejala bervariasi waktu dan
intensitasnya
4. Gejala dipicu oleh infeksi virus,
latihan, pajanan allergen, perubahan cuaca, tertawa atau iritan seperti asap
kendaraan, rokok atau bau yang sangat tajam
ASKEP ASMA BRONCHIALE
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang
Sederhana (Objective)
Pemeriksaan fisik pasien asma biasanya
normal. Abnormalitas yang paling sering ditemukan adalah mengi ekspirasi saat
pemeriksaan auskultasi, tetapi ini bisa saja hanya terdengar saat ekspirasi
paksa. Mengi dapat juga tidak terdengar selama eksaserbasi asma yang berat
karena penurunan aliran napas yang dikenal dengan “silent chest”.
1. Arus Puncak Ekspirasi (APE) menggunakan Peak
Flowmeter
2. Pemeriksaan darah (eosinofil dalam
darah)
Penegakan Diagnosis (Assessment)
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang, yaitu terdapat kenaikan ≥15% rasio APE sebelum dan
sesudah pemberian inhalasi salbutamol.


Klasifikasi asma bronkial Derajat Asma
VEP1≥ 80% nilai prediksi
Tanpa gejala diluar serangan
APE ≥ 80% nilai terbaik
Gejala> 1 x/minggu, tetapi< 1 x/hari
VEP1≥ 80% nilai prediksi
Serangan dapat mengganggu aktivitas dan
tidur
APE ≥ 80% nilai terbaik
Variabiliti APE 20% – 30%
VEP160 – 80% nilaiprediksi
Serangan mengganggu aktivitas dan tidur
APE 60 – 80% nilaiterbaik


Penilaian derajat kontrol asma
Penilaian klinis (4 minggu terakhir)
Terkontrol sebagian (terdapat salah satu
gejala)
Tiga atau lebih gambaran asma terkontrol
sebagian
Butuh pelega/ pemakaian inhaler
< 80 % prediksi atau nilai yang terbaik
B. Penilaian risiko di masa akan datang
(risiko eksaserbasi, ketidakseimbangan, penurunan fungsi paru, efek
samping)
Gambaran yang dihubungkan dengan
peningkatan risiko yang lebih parah di masa depan termasuk :
Kontrol klinis yang buruk, jumlah
eksaserbasi pertahun, riwayat perawatan karena asma, pajanan asap rokok,
penggunaan obat dosis tinggi)
Semua eksaserbasi terjadi dalam pengobatan
yang adekuat
** Berdasarkan definisi, eksaserbasi di
minggu apapun membuat asma tidak terkontrol
*** Tanpa pemberian bronkodilator
Fungsi paru tidak untuk anak 5 tahun atau
lebih muda
Disfungsi pita suara, Hiperventilasi,
Bronkiektasis, Kistik fibrosis, Gagal jantung, Defisiensi benda asing
Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
1. Pasien disarankan untuk mengidentifikasi
serta mengendalikan faktor pencetusnya.
2. Perlu dilakukan perencanaan dan
pemberian pengobatan jangka panjang serta menetapkan pengobatan pada serangan
akut sesuai tabel di bawah ini.
Penatalaksanaan
asma berdasarkan beratnya keluhan Semua tahapan : ditambahkan agonis beta-2
kerja singkat untuk pelega bila dibutuhkan, tidak melebihi 3-4 kali sehari
Medikasi pengontrol harian
Alternatif / Pilihan lain
Glukokortikoster oid inhalasi (200- 400
μg BB/hari atau ekuivalennya)
Teofilin lepas lambat
Leukotriene modifiers
Kombinasi inhalasi glukokortikostero id
(400-800 μg BB/hari atau ekuivalennya) dan agonis beta-2 kerja lama
Glukokortikosteroid inhalasi (400-800 μg
BB atau ekuivalennya) ditambah Teofilin lepas lambat, atau
Glukokortikosteroid inhalasi (400-800 μg BB/hari
atau ekuivalennya) ditambah agonis beta-2 kerja lama oral, atau
Ditambah agonis beta-2 kerja lama oral,
atau
Ditambah teofilin lepas lambat
Pemeriksaan Penunjang Lanjutan (bila
diperlukan)
2. Uji sensitifitas kulit
Pneumotoraks, Pneumomediastinum, Gagal
napas, Asma resisten terhadap steroid.
1. Memberikan informasi kepada individu dan
keluarga mengenai seluk beluk penyakit, sifat penyakit, perubahan penyakit
(apakah
2.
Kontrol secara teratur antara lain untuk menilai dan monitor berat asma
secara berkala (asthma control test/ ACT)
4.
Menjelaskan pentingnya melakukan pencegahan dengan:
a)
Menghindari setiap pencetus.
b) Menggunakan bronkodilator/ steroid
inhalasi sebelum melakukan exercise untuk mencegah exercise induced
asthma.
), jenis dan mekanisme kerja
kapan harus meminta pertolongan dokter.
1. Bila sering terjadi eksaserbasi.
2. Pada serangan asma akut sedang dan
berat.
3. Asma dengan komplikasi.
Persiapan dalam melakukan rujukan bagi
pasien asma, yaitu:
2. Pemberian steroid sistemik injeksi atau
inhalasi disamping pemberian bronkodilator kerja cepat inhalasi.
3. Pasien harus didampingi oleh
dokter/tenaga kesehatan terlatih selama perjalanan menuju ke pelayanan
sekunder.

semoga informasi bermanfaat dan dapat membantu anda.

Mangihin.com is a website that provides useful information, please share if there is interesting information that can help you. Thank you